analisis Seng (Zn) metode kecap smith

Minggu, 26 Juni 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN
Seng adalah mikromineral yang ada dalam jaringan manusia atau hewan dan terlibat dalam fungsi berbagai enzim dalam proses metabolisme (Atmadja et al 1998). Seng memegang peran essensial dalam banyak fungsi tubuh. Sebagai enzim atau kofaktor, berperan dari berbagai aspek metabolisme (reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida, dan asam nukleat). Sebagai bagian dari enzim peptidase karboksil yang terdapat di dalam cairan pankreas, seng berperan dalam pencernaan protein. Seng juga dibutuhkan oleh enzim insulin yang dibentuk di dalam pankreas walaupun tidak berperan secara langsung dalam enzim insulin. Selain itu, peranan penting lain adalah sebagai bagian integral enzim DNA polimerase dan RNA polimerase yang diperlukan dalam sintesis DNA dan RNA. Sebagai bagian dari enzim kolagenase, seng berperan pula dalam sintsesis dan degradasi kolagen. Dengan demikian seng berperan dalam pembentukan kulit, metabolisme jaringan ikat, dan penyembuhan luka (Almatsier 2004). Seng juga berperan dalam pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma. Seng berperan dalam fungsi kekebalan yaitu dalam fungsi sel T dalam pembentukan antibodi oleh sel B dalam sistem pertahanan tubuh (Almatsier 2004).
Seng juga membantu peran hormon-hormon insulin dipankreas sehingga jika seng berada dalam jumlah sedikit, maka respon insulin akan turun dan toleransi glukosa menjadi terganggu. Seng membantu metabolisme karbohidrat, membantu penyusunan bahan genetik DNA dan RNA (fungsi pertumbuhan sel atau jaringan), merupakan komponen protein “gustin” (mempertajam daya rasa). Seng juga berperan dalam penyembuhan luka, pembentukan sperma, pertumbuhan normal janin, fungsi hormon thyroid dan kemampuan belajar ( Anna dan Lilik 2008).
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui kecukupan seng dalam tubuh agar tidak terjadi defisiensi dengan melakukan analisis Seng (Zn) dengan Metode Kecap Smith. Metode Kecap Smith ini dilakukan dengan menyemprotkan Seng ke dalam mulut menggunakan suntikan tanpa jarumnya. Setelah itu, dibiaskan beberapa saat dan dilanjutkan dengan menanyakan pendapat mereka akan kesan atau efek yang ditimbulkan. Terdapat empat kategori terhadap kesan yang mereka rasakan setelah mulutnya disemprotkan dengan Seng. Kategori pertama responden tidak merasakan apa-apa. Kategori kedua responden mula-mula tidak merasakan sesuatu dengan pasti, setelah beberapa saat terasa kering, kesat. Kategori ketiga responden segera merasakan sesuatu yang pasti namun tidak sampai menyakitkan atau mengganggu. Kategori terakhir yaitu katagori keempat responden segera timbul rasa yang kuat dan mengganggu. Kategori pertama dan kedua menunjukkan bahwa responden mengalami defisiensi Seng, sedangkan kategori ketiga dan keempat menunjukkan bahwa responden memiliki status Seng yang normal.
Berikut adalah diagram lingkaran analisis status Seng (Zn) dengan Metode Kecap Smith di kelas Praktikum Metabolisme Zat Gizi hari Selasa.

Gambar 1 Diagram lingkaran analisis status Seng (Zn) dengan Metode Kecap Smith
Analisis status seng (Zn) dengan Metode Kecap Smith ini menggunakan responden sebanyak 12 orang. Analisis status Seng ini dibagi menjadi empat kategori dengan kriteria yang berbeda. Kategori 1 dan kategori 2 termasuk golongan orang yang menderita defisiensi Seng (Zn), sedangkan kategori 3 dan kategori 4 merupakan golongan orang yang mempunyai status Seng normal (tidak defisiensi). Dari diagram diatas, dapat dilihat bahwa 8% responden termasuk dalam kategori 1 dan ada 67 % yang termasuk dalam kategori 2. Responden yang termasuk dalam kategori 3 ada 25%, sedangkan untuk kategori 4 tidak ditemukan pada responden yang dianalisis (0%). Hal ini menunjukkan bahwa 75% responden yang dianalisis status Seng dengan metode Kecap Smith mengalami defisiensi Seng, sedangkan yang memiliki status Seng normal hanya 25% saja.
Hasil analisis di atas menunjukkan tingkat defisiensi Seng yang banyak dialami oleh mahasiswa. Walaupun Metode Kecap Smith ini kurang begitu akurat dalam menganalisis status Seng, namun dari hasil analisis, indikasi defisiensi Seng pada mahasiswa sangat tinggi. Bila dilihat dari peranan seng yang begitu essensial bagi tubuh, defisiensi terhadap mineral ini dapat menyebabkan berbagai gangguan fungsi tubuh. Gangguan-gangguan yang terjadi yaitu, gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual, gangguan fungsi pencernaan karena gangguan pembentukan kilomikron dan kerusakan permukaan saluran cerna. Di samping itu dapat juga terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan. Kekurangan seng kronis mengganggu pusat sistem saraf dan fungsi otak. Kekurangan seng juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu makan, penurunan ketajaman indera serta rasa memperlambat penyembuhan luka dan dapat menyebabkan kekurangan tembaga (Cu) (Almatsier 2004 ).
Kecukupan gizi Seng tergantung pada bioavailabilitasnya serta keberadaan zat gizi lain dalam bahan pangan yang dapat menghambat daya cerna (serap) Seng. Kecukupan gizi seng menurut AKG tahun 2004, dikelompokkan dalam 5 kriteria dan dalam tingkatan umur yang berbeda. Kriteria dalam AKG 2004 yaitu anak-anak, pria, wanita, wanita hamil dan wanita menyusui. Pembagian kriteria dan tingkatan umur ini disebabkan kecukupan gizi seng setiap orang dengan kriteria dan umur yang berbeda akan berbeda pula kebutuhannya. Dapat dilihat pada tabel WNKPG 2004 pada tinjauan pustaka tentang kecukupan Seng untuk setiap kriteria dan tingkatan umur yang berbeda. Dalam analisis status Seng kali ini, responden yang digunakan adalah pria dan wanita yang berumur 19-20 tahun. Kecukupan gizi untuk pria berumur 19-20 tahun adalah 12,1 mg per hari, sedangkan kecukupan gizi untuk wanita berumur 19-20 tahun lebih rendah yaitu 9,3 mg per hari. Hasil analisis status seng dengan Metode Kecap Smith yang menyatakan bahwa sebagian besar responden mengalami defisiensi Seng. Hal ini berarti kecukupan gizi seng per hari yang dikonsumsi para responden ini tidaklah mencukupi atau berapa dibawah angka kecukupan.
Untuk menjaga agar zat gizi ini tercukupi dengan baik di dalam tubuh, menurut Anna dan Lilik, setiap orang perlu mengkonsumsi makanan yang mengandung sumber protein karena Seng berikatan dengan asam amino, peptida dan asam nukleat. Sumber pangan utama yang memiliki kadar Seng tinggi adalah ikan, kerang, unggas, hati dan daging mengandung Seng tinggi. Sumber lainnya dengan kadar Seng sedang adalah kacang-kacangan dan produk biji-bijian kulit penuh. Sumber lain dengan kandungan Seng rendah terdapat pada buah-buahan, sayuran, serealia. Seng dari sumber nabati umumnya rendah dibanding dari sumber hewani. Selain jenis sumber pangan, pengolahan makanan dari sumber pangan tersebut juga dapat mempengaruhi ketersediaan seng. Contohnya pemanasan dapat menyebabkan Seng resisten terhadap hidrolisis (Anna dan Lilik 2008).

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pada praktikum analisis status seng (zn) dengan metode kecap smith dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden mengalami defisiensi seng (75%). Sisanya (25%) mempunyai status seng normal. Defisiensi seng dapat menyebabkan berbagai gangguan fungsi tubuh.
Saran
Analisis status seng sangat berguna dalam penentuan kecukupan seng seseorang, oleh karena itu analisis status seng harus diuji lagi ketelitian dan keakuratan metodenya agar dapat digunakan untuk menganalisis kecukupan seng tingkat nasional. diharapkan praktikan lebih memperhatikan aturan praktikum dan tidak meninggalkan sampah di dalam laboratorium.
(aws 2011)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Rajin benjet si ng.upload artikel ilmiah... ^_^

Poskan Komentar