glukosa darah dan glikogen puasa

Minggu, 26 Juni 2011

Laporan Praktikum ke 3 Tanggal Mulai : 08 Maret 2011
MK Metabolisme Zat Gizi Tanggal Selesai : 15 Maret 2011



PENGARUH PUASA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN KANDUNGAN GLIKOGEN HATI TIKUS


Oleh:
Kelompok 4
Arnati Wulansari I14090020
Lativa I14090028
Khoirul Anwar I14090037
Meirisa Rahmawati I14090048
Dini Anriany I14090094
Evi Astuti Widya S I14090119



Asisten Praktikum:
Angga Hardiansyah
Desi Erfi Susanti



Koordinator Mata Kuliah:
Dr. Rimbawan











DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN
Latar belakang
Di dalam ilmu gizi, secara sederhana karbohidrat dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu karbohidrat sederhana & karbohidrat kompleks. Berdasarkan responnya terhadap glukosa darah di dalam tubuh, karbohidrat juga dapat dibedakan berdasarkan nilai tetapan indeks glikemiknya (glycemic index). Contoh dari karbohidrat sederhana adalah monosakarida seperti glukosa, fruktosa & galaktosa atau juga disakarida seperti sukrosa & laktosa. Jenis-jenis karbohidrat sederhana ini terkandung di dalam produk pangan seperti madu, buah-buahan dan susu. Sedangkan contoh dari karbohidrat kompleks adalah pati (starch), glikogen (simpanan energi di dalam tubuh), selulosa, serat (fiber) atau dalam konsumsi sehari-hari karbohidrat kompleks terkandung di dalam produk pangan seperti, nasi, kentang, jagung, singkong, ubi, pasta, dan roti (Irawan 2003).
Di dalam sistem pencernaan dan juga usus halus, semua jenis karbohidrat yang dikonsumsi akan terkonversi menjadi glukosa untuk kemudian diabsorpsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke berbagai organ dan jaringan tubuh. Melalui berbagai tahapan dalam proses metabolisme, sel-sel yang terdapat di dalam tubuh dapat mengoksidasi glukosa. Glukosa yang berada dalam darah lazim disebut sebagai kadar glukosa darah. Konsentrasi glukosa darah yang normal berkisar pada nilai 100 mg/dl sampai 110 mg/dl. Kadar glukosa darah sering dipergunakan sebagai parameter keberhasilan metabolisme di dalam tubuh, dimana akibat kondisi tertentu sehubungan dengan konsentrasi glukosa di darah tubuh dapat mengalami keadaan yang disebut hipoglikemia yaitu kondisi penurunan kadar glukosa darah (Stryer 2000).
Kondisi ini terjadi karena glukosa di darah untuk dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh memerlukan hormon insulin. Kelebihan insulin akan menyebabkan penurunan konsentrasi glukosa di darah. Pada keadaan yang ekstrim dapat menyebabkan keadaan koma hipoglikemia (jika kadar glukosa darah turun di bawah 20 mg/dl). Ini terjadi karena pasokan glukosa ke sel otak terganggu atau kurang karena sel otak sumber energinya hanya glukosa (Indah 2007).
Di dalam tubuh, karbohidrat yang telah terkonversi menjadi glukosa tidak hanya akan berfungsi sebagai sumber energi utama bagi kontraksi otot atau aktifitas fisik tubuh, namun glukosa juga akan berfungsi sebagai sumber energi bagi sistem syaraf pusat termasuk juga untuk kerja otak. Selain itu, karbohidrat yang dikonsumsi juga dapat tersimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen di dalam otot dan hati. Glikogen otot merupakan salah satu sumber energi tubuh saat sedang berolahraga sedangkan glikogen hati dapat berfungsi untuk membantu menjaga ketersediaan glukosa di dalam sel darah dan sistem pusat syaraf (Irawan 2003).
Untuk mempertahankan kadar glukosa darah, didalam tubuh dapat berlangsung beberapa proses yaitu : pencernaan dan absorpsi makanan mengandung karbohidrat, proses glukoneogenesis, dan glikogenolisis di hepar dan parenkim ginjal. Hal ini juga terjadi pada tikus. Dalam percobaan ini dilakukan uji pengaruh puasa terhadap kadar glukosa darah dan kandungan glikogen hati tikus. Praktikum ini perlu dilakukan untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah dan kandungan glikogen pada hati tikus dalam keadaan puasa dan kadar glukosa darah saat tikus tersebut berpuasa
Tujuan
Praktikum Pengaruh Puasa Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Kandungan Glikogen Hati Tikus memiliki berbagai macam manfaat dan tujuan. Beberapa manfaat dan tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Untuk membuktikan bahwa dalam keadaan puasa atau kelaparan, kadar glikogen hati akan berkurang
2. Untuk mengukur kandungan glikogen hati tikus
3. Untuk mengukur kadar glukosa darah tikus dalam keadaan puasa dan tidak puasa

TINJAUAN PUSTAKA
Glikolisis
Merupakan suatu lintas pusat universal dari katabolisme glukosa, tidak hanya didalam hewan dan tumbuhan tetapi juga dalam banyak mikroorganisme. Terdapat tiga jalur penting yang dapat dilalui oleh piruvat setelah glikolisis. Pada organisme aerobik, glikolisis hanya menyusun pada tahap pertama dari keseluruhan degradasi aerobik glukosa menjadi CO2 dan H2O. Lintas piruvat yang kedua adalah reduksinya menjadi laktat. Jika dalam keadaan anaerobik, glikolisis dalam sel otot akan nmenghasilkan laktat, sedangkan pada mikroorganisme menghasilkan etanol dan CO2 (Lehninger 1994). Glikolisis bersangkutan dengan pembentukan ATP, produksi piruvat, pembentukan senyawa antara bagi proses-proses biokimiawi lain misalnya gliserol 3-fosfat untuk biosintesis trigliserid dan fosfolipid dan sebagainya. Glikolisis dapat dipandang berlangsung dalam tiga tingkat. Tingkat pertama berkenaan dengan pembentukan D-glukose 6-fosfat, tingkat kedua dalam glikolisis mengakibatkan pemecahan rantai 6-karbon D-glukose 6-fosfat menjadi dua molekul gliseraldehid 3-fosfat, dan tingkat tiga glikolisis merupakan pembentukan piruvat dari oksidasi 3-fosfo D-gliseraldehid (Montgomery et al. 1993).
Glikogen
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Terbentuk dari mokekul glukosa yang saling mengikat dan membentuk molekul yang lebih kompleks. Glikogen memiliki fungsi sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi sistem pusat syaraf dan otak. Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan otot,glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot sedangkan di dalam hati glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari total massa hati. Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara total jaringan otot memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan dengan glikogen hati. Pada jaringan otot, glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen dapat digunakan secara langsung oleh otot tersebut untuk menghasilkan energi. Begitu juga dengan hati yang dapat mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk memproduksi energi di dalam tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai peranan yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh yaitu berfungsi untuk menjaga level glukosa darah (Anonim 2007).
Sintesis glikogen (glikogenesis) dan pemecahan glikogen (glikogenolisis) berlangsung lewat jalur metabolik yang berbedea yang dikontrol dengan sangat halus dengan cara saling berkaitan untuk menjamin 3 hal yaitu mempertahankan kadar gula darah dan simpanan glikogen dalam hati dan sedikit dalam ginjal. Dapat diperolehnya D-glukose 1-fosfat intrasel untuk glikolisis dan produksi ATP. Penanggulangan keadaan hiperglikemia data dilakukan dengan biosintesis glikogen. Namun, banyaknya glikogen yang dapat disimpan dalam jaringan normal terbatas. Apabila batas ini terlampaui, kelebihan glucosa diubah menjadi lemak, suatu simpanan yang batasnya tidak jelas (Montgomery et al. 1993).
Glikogenolisis
Glikogenolisis berlangsung dengan jalur yang berbeda dengan glikogenesis. Dengan adanya enzim fosforilase a, fosfat organik (Pi) melepaskan sisa glukosa nonpereduksi ujung dalam glikogen satu persatu untuk menghasilkan D-glukosafosfat 1-fosfat. Reaksi ini analog dengan hidrolisis elemen fosfat sebagai ganti air yang ditambahkan pada ikatan glikosidik yang dilepaskan, reaksi ini dinamakan fosforolisis. Kerja fosforilase a berhenti dekat titik percabangan, rata-rata tiga sampai empat sisa D-glukosil dari percabangan tersebut. Hasil antara ini disebut limit dekstrin. Sintesis dan pemecahan glikogen berlangsung lewat jalan yang berbeda. Tergantung pada proses yang mempengaruhinya, molekul glikogen menjadi lebih kecil atau lebih besar, namun hal ini jarang terjadi. Apabila ada, molekul tersebut dipecah sempurna, meski pada hewan kelaparan simpanan glikogen tidak pernah kosong sama sekali. Sekitar 85% D-glukosa yang dihasilkan dari pemecahan glikogen terdapat dalam bentuk 1-fosfatnya, sedang 15% dalam bentuk glukosa bebas (Montgomery et al. 1993).
KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS
Faktor intake makanan dengan tanpa disadari ikut menyertakan radikal bebas masuk ke dalam tubuh. Jumlah radikal bebas yang turut masuk ke dalam tubuh lambat laun terakumulasi dan dapat merusak sel-sel, khususnya sel beta pankreas. Kerusakan sel-sel beta pankreas selanjutnya akan mengakibatkan penurunan hormon insulin sehingga kadar glukosa di dalam tubuh akan meningkat karena seluruh glukosa yang dikonsumsi tubuh tidak dapat diproses secara sempurna (Anonim 2010).
Pada keadaan setelah penyerapan makanan, kadar glukosa darah pada manusia dan mamalia berkisar antara 4,5 – 5,5 mmol/L. Setelah ingesti makanan yang mengandung karbohidrat, kadar tersebut naik hingga 6,5 – 7,2 mmol/L. Saat puasa kadar glukosa darah akan turun menjadi sekitar 3,3 – 3,9 mmol/L. Penurunan mendadak kadar glukosa darah akan menyebabkan konvulsi, seperti terlihat pada keadaan overdosis insulin, karena pengaturan otak secara langsung pada pasokan glukosa. Namun, kadar yang jauh lebih rendah dapat ditoleransi asalkan terdapat adaptasi yang progressif. Sebagian besar karbohidrat yang dapat dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa. Karbohidrat di dalam makanan yang dicerna secara aktif mengandung residu glukosa, galaktosa, dan fruktosa yang akan dilepas di intestinum. Zat-zat ini lalu diangkut ke hati lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi menjadi glukosa di hati. Glukosa dibentuk dari senyawa-senyawa glukogenik yang mengalami glukoneogenesis (Sodikin 2010).
Glukosa darah normal tikus sehat bervariasi 50 Sampai 135 mg/dl. Seperti semua mamalia, kadar glukosa darah tergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi dan waktu sejak makan terakhir. Semua Pembongkaran, glukosa kadar darah tergantung jenis makanan dan yang terkahir dikonsumsi. Glukosa darah adalah jumlah yang hadir glukosa dalam sampel darah dan biasanya diberikan dalam mg/dl. Seperti semua mamalia berpuasa, kadar glukosa darah menurun secara signifikan dari waktu ke waktu karena tidak ada gula dikonsumsi. Semua mamalia berpuasa, glukosa kadar darah menurun secara signifikan karena gula regular tidak dikonsumsi. Glukosa darah untuk tikus puasa berkisar 50-109 mg/dl. Pada Tikus Puasa, kadar glukosa darah untuk berkisar 50-109 mg/dl. Bila kadar glukosa darah pada tikus tinggi (di atas 135 mg/dl), ini biasanya berarti bahwa makan besar telah dikonsumsi dan insulin masih bekerja untuk memecah glukosa. Ketika glukosa tikus pada darah tinggi (tetap di permanent 135 mg/dl), suami biasanya berarti bahwa telah makan dan insulin masih bekerja untuk memecah glukosa. Jika glukosa darah tinggi pada tikus berpuasa, diabetes mungkin ada (Anonim 2010).
Metode Follin Wu
Metode ini digunakan dalam analisis kuantitatif gula dalam darah. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin Wu adalah ion kupri akan direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan mengendap menjadi Cu2O. Penambahan pereaksi fosfomolibdat akan melarutkan Cu2O dan warna larutan menjadi biru tua, karena ada oksida Mo. Dengan demikian, banyaknya Cu2O yang terbentuk berhubungan linier dengan banyaknya glukosa di dalam darah. Filtrat yang berwarna biru tua yang terbentuk akibat melarutnya Cu2O karena oksida Mo dapat diukur kadar glukosanya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm (Kuswurj 2009).
Fungsi Pereaksi
Na-tungstat dalam metode folin wu berperan untuk mengendapkan glukosa yang terlarut di dalam air. Selain itu juga terdapat pereaksi H2SO4 yang berfungsi sebagai sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan glukosa oleh Na tungstat. Penambahan HCl pekat untuk menghidrolisis glikogen dimana glikogen akan dihidrolisis dengan bantuan HCl pekat (Sumardji 1989). Pereaksi NaOH yang digunakan pada ekstraksi glikogen untuk memberikan suasana basa karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam (Winarno 1984).

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Maret sampai 15 Maret 2011 pada pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB bertempat di Laboratorium Metabolisme Zat Gizi Lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah perangkat bedah tikus, pelumat jaringan, penangas, gelas ukur, timbangan digital, vakum, dan spektrofotometer. Bahan yang digunakan adalah hati tikus, darah tikus, larutan NaCl 0.9 g/dL, etanol absolut, HCl pekat, larutan NaOH, Larutan asam asetat 10%, akuades, larutan natrium tungstat 10%, dan larutan asam sulfat (H2SO4) 2/3 N.

PEMBAHASAN
Glikolisis (proses pemecahan glukosa) merupakan proses utama dalam katabolisme karbohidrat melalui proses pengubahan molekul sumber energi, yaitu glukosa yang mempunyai 6 atom C manjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu asam piruvat yang mempunyai 3 atom C. Reaksi ini berlangsung di dalam sitosol (sitoplasma). Glikolisis dalam eritrosit dalam keadaan aerobik akan menghasilkan asam laktat, karena enzim-enzim yang dapat mengoksidasi asam piruvat secara aerobik tidak ada dalam sel darah merah. Glikolisis bersangkutan dengan pembentukan ATP, produksi piruvat, pembentukan senyawa antara bagi proses-proses biokimiawi lain misalnya gliserol 3-fosfat untuk biosintesis trigliserid dan fosfolipid dan sebagainya. Glikolisis dapat dipandang berlangsung dalam tiga tingkat. Tingkat pertama berkenaan dengan pembentukan D-glukose 6-fosfat, tingkat kedua dalam glikolisis mengakibatkan pemecahan rantai 6-karbon D-glukose 6-fosfat menjadi dua molekul gliseraldehid 3-fosfat, dan tingkat tiga glikolisis merupakan pembentukan piruvat dari oksidasi 3-fosfo D-gliseraldehid (Montgomery et al. 1993).
Percobaan pengaruh puasa terhadap kadar glukosa darah tikus ini menggunakan dua kelompok tikus, kelompok pertama tikus dipuasakan selama 48 jam dan kelompok kedua tikus mendapatkan makanan standar. Pengukuran kadar glukosa darah tikus ditetapkan dengan cara Folin-Wu dimana protein darah dipisahkan terlebih dahulu. Metode ini digunakan dalam analisis kuantitatif gula dalam darah. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin-Wu adalah ion kupri akan direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan mengendap menjadi Cu2O. Penambahan pereaksi fosfomolibdat akan melarutkan Cu2O dan warna larutan menjadi biru tua, karena ada oksida Mo. Dengan demikian, banyaknya Cu2O yang terbentuk berhubungan linier dengan banyaknya glukosa di dalam darah. Filtrat yang berwarna biru tua yang terbentuk akibat melarutnya Cu2O karena oksida Mo dapat diukur kadar glukosanya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm. Penetapan kadar glukosa darah tikus ini menggunakan pereaksi larutan natrium tungstat 10% yang berfungsi untuk membantu pengendapan kadar glukosa darah, larutan H2SO4 2/3 N dan menggunakan larutan tembaga alkalis sebagai katalisator dalam pengendapan kadar glukosa darah.
Percobaan pengukuran kadar glukosa darah tikus yang puasa dan yang tidak puasa dari hasil percobaan setelah diukur dan dihitung dapat disajikan didalam tabel.
Tabel 1 Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Tikus
Perlakuan Sampel Kadar Glukosa Darah (mg/mL)
Puasa T2 0.2
T4 0.27
T6 9.78
Rata-rata 3.57
Tidak Puasa T1 0.07
T3 0.03
T5 1.78
Rata-rata 0.63
Hasil percobaan pengukuran kadar glukosa darah dari kedua kelompok tikus didapatkan rata-rata kadar glukosa darah tikus yang puasa adalah 3,57 mg/mL. Hasil perhitungan kadar glukosa darah tikus yang puasa ini sudah sesuai dengan literatur karena menurut literatur kadar glukosa darah tikus saat puasa kadar glukosa darah akan turun menjadi sekitar 3,3 – 3,9 mmol/L. Kadar glukosa darah turun pada saat puasa disebabkan faktor intake makanan. Pada saat puasa tikus tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup sehingga menyebabkan kerusakan sel-sel beta pankreas selanjutnya akan mengakibatkan peningkatan hormon insulin sehingga kadar glukosa di dalam tubuh tikus akan menurun karena seluruh glukosa yang dikonsumsi tubuh tidak dapat diproses secara sempurna
Tikus yang tidak puasa dari hasil perhitungan didapatkan rata-rata kadar glukosa darahnya adalah 0,63 mg/mL. Hasil perhitungan kadar glukosa darah tikus yang tidak puasa ini tidak sesuai dengan literatur karena menurut literatur kadar glukosa darah itu meningkat ketika tikus tidak dipuasakan karena menurunnya produksi hormon insulin yaitu berkisar antara 4,5 – 5,5 mmol/L. Dari hasil perhitungan yang didapat antara kelompok tikus yang puasa dan yang tidak puasa maka diperoleh rata-rata kadar glukosa puasa lebih tinggi dari kadar glukosa yang tidak puasa yaitu 3,57 mg/mL sedangkan yang tidak puasa hanya 0,63 mg/mL hal ini disebabakan oleh faktor kesalahan yaitu dalam hal penyaringan untuk mendapatkan filtrat yang jernih masih terdapat campuran darah didalam filtratnya sehingga mempengaruhi hasil perhitungan. Faktor kesalahan lainnya adalah ketidaktelitian praktikan dalam melakukan percobaan terutama dalam hal menghitung nilai absorbansi.
Kadar glukosa darah tidak boleh turun secara drastis karena dapat menyebabkan menyebabkan konvulsi, seperti terlihat pada keadaan overdosis insulin, karena pengaturan otak secara langsung pada pasokan glukosa. Namun, kadar yang jauh lebih rendah dapat ditoleransi asalkan terdapat adaptasi yang progressif. Sebagian besar karbohidrat yang dapat dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa. Karbohidrat di dalam makanan yang dicerna secara aktif mengandung residu glukosa, galaktosa, dan fruktosa yang akan dilepas di intestinum. Zat-zat ini lalu diangkut ke hati lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi menjadi glukosa di hati. Glukosa dibentuk dari senyawa-senyawa glukogenik yang mengalami glukoneogenesis sehingga secara bertahap kadar glukosa dalam darah dapat diseimbangkan.
Sintesis dan pemecahan glikogen berlangsung lewat jalan yang berbeda. Tergantung pada proses yang mempengaruhinya. Molekul glikogen menjadi lebih kecil atau lebih besar namun hal ini jarang terjadi. Apabila ada, molekul tersebut dipecah sempurna, meski pada hewan kelaparan simpanan glikogen tidak pernah kosong sama sekali. Sekitar 85% D-glukosa yang dihasilkan dari pemecahan glikogen terdapat dalam bentuk 1-fosfatnya, sedang 15% dalam bentuk glukosa bebas (Montgomery et al. 1993).
Setelah glikogen hati mengendap setelah penyimpanan selama seminggu, lalu endapannya dipisahkan dengan vakum, dan diberi 10 ml aquades, 10 ml HCL dan dihomogenasi. Fungsi dari larutan HCL adalah untuk menghidrolisis glikogen sehingga membantu pada saat proses homogenisasi yang akhirnya kadar glikogen hati dapat ditentukan.
Percobaan pengukuran kadar glukosa darah tikus yang puasa dan yang tidak puasa dari hasil percobaan setelah diukur dan dihitung dapat disajikan didalam tabel.
Tabel 2 Hasil Pengukuran Kadar Glikogen Jaringan Hati Tikus
Perlakuan Sampel Kadar Glikogen Hati (mg/g)
Tidak Puasa T1 0.132
T3 0.349
T5 0.085
Rata-rata 0.189
Puasa T2 -
T4 0.049
T6 0.039
Rata-rata 0.044
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Glikogen terbentuk dari molekul glukosa yang saling mengikat dan membentuk molekul yang lebih kompleks. Glikogen memiliki fungsi sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi sistem syaraf pusat dan otak. Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen.
Tabel kadar glikogen pada hati tikus terlihat bahwa ada perbedaan yang cukup nampak antara kadar tikus puasa dan kadar glikogen yang tidak puasa. Pada tikus yang tidak puasa kadar glikogen hati terlihat lebih besar yaitu dari tiga rata-rata sampel sebesar 0,189 mg/g. Hal tersebut dikarenakan pada saat tikus diambil hatinya keadaan kandungan glukosa pada tubuhnya masih dipasok secara normal dan belum memakai kadar glikogen pada tubuhnya. Setelah ingesti makanan yang mengandung karbohohidrat, kadar glukosa darah akan naik. Berbeda dengan kadar glikogen hati pada tikus yang dipuasakan yaitu dari tiga sampel absorbansi uji didapatkan rata-rata sebesar 0,044 mg/g. Saat puasa kadar glukosa darah akan turun dari biasanya maka cadangan glikogenpun akan terpakai agar tetap mendapatkan glukosa. Penurunan mendadak kadar glukosa darah akan menyebabkan konvulsi, yaitu keadaan seperti overdosis insulin, otak akan yang mengkondisikan secara langsung pada saat tubuh tetap memasok glukosa. Namun, kadar yang jauh lebih rendah dapat ditoleransi asalkan terdapat adaptasi yang progresif.
Sebagian besar karbohidrat yang dapat dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa. Karbohidrat di dalam makanan yang dicerna secara aktif mengandung residu glukosa, galaktosa, dan fruktosa yang akan dilepas di intestinum. Zat–zat ini lalu diangkut ke hati lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi menjadi glukosa di hati. Glukosa dibentuk dari senyawa–senyawa glukogenik yang mengalami glukoneogenesis.
Glikogenolisis pada tikus yang puasa terjadi setelah kadar glikogennya sudah dipecah sempurna, tetapi kadar glikogennya tidak pernah kosong. Enzim fosforilase a fosfat organik akan melepaskan sisa glukosa non pereduksi ujung dalam glikogen satu persatu untuk menghasilkan D-glukosafosfat 1-fosfat. Maka akan terbentuk tiga sampai empat sisa D-glukosil dari percabangan tersebut yang disebut limit dekstrin.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari praktikum Pengaruh Puasa Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Kandungan Glikogen Hati Tikus dapat disimpulkan bahwa dalam keadaan puasa atau kelaparan, kadar glikogen hati akan berkurang. Karena pada saat puasa kadar glukosa darah akan turun dari biasanya maka cadangan glikogen akan terpakai agar tetap mendapatkan glukosa. Pada tikus yang tidak puasa kadar glikogen hati dari tiga rata-rata sampel sebesar 0,189 mg/g. Sedangkan saat berpuasa kadar glikogen hati pada tikus yaitu sebesar 0,044 mg/g.
Pada keadaan tikus yang berpuasa, rata-rata kadar glukosa darah tikus yang adalah 3,57 mg/ml, seangkan tikus yang tidak puasa dari hasil perhitungan didapatkan rata-rata kadar glukosa darahnya adalah 0,63 mg/ml.
Saran
Pada praktikum selanjutnya diharapkan ketelitian praktikan dlam mengerjakan percobaan ditingkatkan, serta pemahaman awal tentang prosedur praktikum lebih diprioritaskan. Praktikum ini bermanfaat untuk mengetahui metabolisme karbohidrat dalam tubuh saat berpuasa dan tidak berpuasa, diharapkan hal ini dapat dikaji lebih dalam karena bermanfaat untuk pengetahuan tentang aplikasi ilmu metabolisme zat gizi lebih lanjut.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Glikogen. [Terhubung Berkala] http://www.pssplab.com/id-carbohydrate03.php. Diakses tanggal 19 Maret 2011

Anonim. 2010. Glukosa Darah Tikus Normal Level . [Terhubung berkala]. http://www.ehow.com/facts_5990203_normal-rat-blood-glucose-level.html#ixzz1Gz60aU00. Diakses tanggal 18 Maret 2011

Indah sari. 2007. Reaksi-reaksi Biokimia sebagai Sumber Glukosa Darah. [Terhubungberkala].http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1934/1/09E01867.pdf (19 Maret 2003)

Irawan. 2003. Karbohidrat. http://www.pssplab.com/journal/03.pdf (19 Maret 2003)

Kuswurj R. 2009. Penentuan kadar gula reduksi nira tebu. [Terhubung berkala] http://www.risvank.com/tag/lane-eynon. Htm (18 Maret 2011)

Lehninger Albert L. 1994. Dasar-dasar biokimia Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Montgomery et al. 1993. Biokimia suatu pendekatan berorientasi kasus. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Sodikin. 2010. Pengaruh Pemberian Propolis Lebah Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Di Induksi Alloxan. [Terhubung berkala] http://obatpropolis.com/pengaruh-pemberian-propolis-lebah-terhadap-kadar-glukosa-darah. diakses tanggal (18 Maret 2011)

Stryer L. 2000. Biokimia edisi 4. Jakarta :EGC

Sudarmadji S.1989. Kimia Analisis dan Gizi. Gramedia:Jakarta

Winarno.1984. Kimia Pangan dan Analisis. Yogyakarta : Liberty


LAMPIRAN
Tabel 2 Data Absorbansi Darah Tikus
Perlakuan Sampel Absorbansi
Uji I Uji II Blanko Std I Std II
Puasa T2 0.073 0.077 0.06 0.131 0.137
T4 0.08 0.15
T6 0.783 0.785
Tidak Puasa T1 0.035 0.065
T3 0.052 0.072
T5 0.192 0.214
Tabel 3 Kadar Glukosa Darah Tikus
Perlakuan Sampel Rata-Rata Absorbansi Uji Kadar Glukosa Darah (mg/mL)
Puasa T2 0.075 0.2
T4 0.08 0.27
T6 0.784 9.78
Rata-rata 3.57
Tidak Puasa T1 0.065 0.07
T3 0.062 0.03
T5 0.192 1.78
Rata-rata 0.63
Tabel 4 Data Absorbansi Glikogen Jaringan Hati
Perlakuan Sampel Berat Hati Absorbansi Absorbansi
(gram) Uji I Uji II
Tidak Puasa T1 9.463 0.117 0.194
T3 11.74 0.266 0.26
T5 9.53 0.085 0.034
Puasa T2 - - -
T4 7.1051 0.064 0.057
T6 7.4486 0.054 0.109
Blanko 0.028 Rata-Rata
Standar I 0.118 0.123
Standar II 0.128







Tabel 5 Kadar Glikogen Jaringan Hati
Perlakuan Sampel Rata-Rata Absorbansi Uji Kadar Glikogen Hati (mg/g)
Tidak Puasa T1 0.117 0.132
T3 0.263 0.349
T5 0.085 0.085
Rata-rata 0.189
Puasa T2 - -
T4 0.061 0.049
T6 0.054 0.039
Rata-rata 0.044

Pembagian tugas kelompok :
1. Arnati Wulansari : Cover dan Pendahuluan
2. Lativa : Pembahasan
3. Khoirul Anwar : Tinjauan Pustaka
4. Meirisa Rahmawati : Metodologi dan Lampiran
5. Dini Anriany : Pembahasan
6. Evi Astuti Widya S : Kesimpulan dan Saran, Daftar Pustaka dan Editing

(aws 2011)

2 komentar:

faizulfikri mengatakan...

wahh . . isinya laporan praktikum semua.
-,-
tapi kalo dirapiin dikit lagi bagus sih.
tetep semangat menulis yak.
^_^

maz pupunk mengatakan...

bagus bagus vie....lanjutkan karyamu

Poskan Komentar